Pesona keindahan Gugusan Kepulauan Mentawai

This story was published on Clara Magazine August 2015 issue

Tak hanya menyajikan ombak buat peselancar kelas dunia, Kepulauan Mentawai pun menyimpan banyak pesona destinasi lainnya. Pulau-pulau perawan disini yang tersebar di samping empat pulau utamanya menawarkan liburan kelas dunia yang mampu memanjakan mata dan menenangkan pikiran. Sepi, sepi dan sepi! Bagi saya itu adalah bonus utama jika berlibur ke pulau-pulau disini. Gugusan kepulauan non-vulkanis ini menyimpan beragam pesona seperti terumbu karang yang masih alami, pantai dengan air yang sangat jernih dan bersih dan beragam pesona lainnya yang terbungkus dalam kemewahan yang sederhana. Tak hanya pantai, aktivitas menyusuri hutan bakau pun tak boleh dilewatkan. Beragam hewan endemik disini akan mampu menyita perhatian anda. Mulai dari beragam jenis unggas, primata sampai reptil. Semuanya tersaji apik disini.

image

Rasa lelah yang masih menggelayuti tubuh ini setelah membelah hutan di pulau Siberut demi menuju desa-desa adat terpencil yang didiami suku asli Mentawai rasanya belum hilang sama sekali. Bayangkan saja, kami harus berkutat lima jam lebih naik motor menembus hutan lebat dengan beragam vegetasi dengan jalanan yang rusak parah. Dan hari ini kami berencana hopping island di Kepulauan Mentawai dan menginap semalam di resort yang ada disana. Membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan.

Lanjutkan membaca

Iklan

Menjelajahi Keindahan Tanah Sumba

Pertama kali mengenal pulau Sumba mungkin ketika saya masih SMP atau SD, saya lupa. Bahkan dulunya seringkali saya kebingungan membedakan antara Sumba dan Sumbawa, pernah saya mengira Sumba itu adalah ibukota Sumbawa, ternyata salah. dan ketika saya pertama kali melakukan perjalanan pertama kali kesini, saya langsung jatuh cinta dengan pulau ini. Terutama kecintaan saya dengan bukit-bukit cantiknya yang paling hebat mencuri hati saya, entah itu ketika kecoklatan saat musim kemarau atau kehijauan saat musim hujan. Mungkin kalau memiliki waktu yang panjang saya ingin sekali menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandang bukit-bukit disini, entah itu bukit Wairinding yang paling terkenal ataupun bukit Wailara yang juga eksotik. Selain  bukitnya, Sumba juga memiliki sejumlah pantai yang masih sepi, dan favorit saya jatuh pada Tarimbang. Pantai ini menjadi pantai favorit saya di Sumba bukan karena keindahannya, karena sebenarnya view yang ditawarkan masih tergolong biasa saja, bahkan jika dibandingkan dengan pantai cantik di daerah lain, pantai ini takkan mampu beradu untuk masalah keindahan viewnya, apalagi menandingi pantai yang ada di Flores, Maluku ataupun belahan Indonesia lainnya. Yang membuat saya jatuh cinta pada pantai ini adalah sensasi kedalamaiannya. Sepi adalah kata kunci dari Tarimbang, dan di pantai ini kita dapat meraup dan menikmati sepi itu sebanyak-banyaknya.

Sebelas jam sudah kapal ferry yang saya tumpangi ini terapung-apung di lautan antara Pulau Sumbawa dengan Sumba. Sebelas jam itu pula saya harus menderita menahan sakit di perut dan badan yang kurang cocok diajak bertualang kali ini. Perjalanan overland dan sailing di Flores dan Lombok kemarin nampaknya sukses menggerogoti daya tahan tubuh saya hanya dalam beberapa hari. Dan sekarang, di tepi Barat Daya pesisir Sumba, saya harus menikmati perjalanan seorang diri menembus lautan demi menyeberang ke Pulau Sumba.

Lambung kapal merapat secara perlahan tak lama kemudian. Terik matahari yang teramat menyengat menyambut kedatangan saya. Sorak sorai anak kecil bersahutan sambal berlarian masuk kedalam kapal dari celah-celah yang hanya bisa memuat badan mereka yang kurus kering. Saya tersenyum sebentar, melihat gelagat mereka yang nampaknya riang, tak lama saya kembali merengut. Mengutuk beratnya kerir yang ada di punggung ini ditambah antrian mobil dan motor keluar yang terhambat karena pintu kapal depan kesulitan untuk disandarkan ke bibir dermaga

Lanjutkan membaca

Menyambangi kedamaian Gunung Argopuro

Masih teringat jelas rasanya pendakian bulan Agustus Tahun 2015 yang lalu di Gunung Argopuro menjadi bermakna dan lebih bernilai bagi saya. Mungkin kecelakaan kecil yang kaki saya alami seperti menampar bagaimana saya harus beretika sebelum melakukan pendakian. Hampir setahun saya nekat jalan-jalan tanpa izin dari orang tua, saya nekat mendaki gunung-gunung diluar sana. Dan setelah kejadian pagi hari di Cikasur itu akhirnya saya mengalah, saya menyadari bahwa betapa kecilnya saya di alam ini, tak hanya restu alam yang saya butuhkan, tetapi juga restu orang tua.

Banyak cara yang kita lakukan untuk menikmati hidup yang singkat ini. Salah satunya adalah jalan-jalan. Mungkin sebagian teman-teman saya akan lebih suka memilih jalan-jalan ke pantai atau ke destinasi dengan spot belanja yang menarik, tapi saya sendiri lebih mencintai Gunung. Entah kenapa, entah muncul darimana, perasaan bahagia yang mungkin paling mampu menyentuh perasaan bahagia yang paling dalam selalu muncul ketika saya mendaki. Terkadang momen sederhana ketika bisa menyaksikan sunrise dan sunset bersama teman, mengeluh karena kedinginan, dan bahkan menyadari betapa bodohnya kami kenapa gemar sekali melakukan aktivitas yang sesungguhnya melelahkan ini bisa membuat saya tersenyum sendiri

Lanjutkan membaca

Pesona Kaldera Gunung Ijen

Dengan kecepatan tinggi saya memacu motor dari Banyuwangi menuju Kawasan wisata Gunung Ijen malam itu. Dinginnya angin malam cukup menusuk, terlebih ketika waktu melewati tengah malam saat kami sudah berada di kaki Gunung Ijen. Saya cukup nekat mengendarai motor tanpa sarung tangan, alhasil tangan saya kedinginan dan sakit karena terlalu dingin. Sejam kemudian tiba juga akhirnya di pos sebelum pendakian ke Gunung Ijen. Loket tiket belum dibuka, kami harus menunggu sejam lagi tepatnya pukul satu malam ketika loket sudah dibuka. Setelah dibuka barulah berbondong-bondong pengunjung menyerbu loket tersebut dan bersiap mendaki gunung Ijen.

Treknya cukup bersahabat. Tak begitu panjang, sekitar 3 KM dengan kemiringan yang cukup membuat kaki cenat-cenut. Jalanan sudah sangat bagus menyebabkan perjalanan disini cukup mudah. Akhirnya satu jam kemudian saya tiba di kawah Gunung Ijen. Saat itu masih sepi karena belum banyak pengunjung yang sampai. Tiba disana saya cukup kaget ternyata tidak ada blue fire yang terlihat malam itu. Akhirnya saya menanyakan kepada Bapak penambang disitu mengapa tak muncul blue fire malam itu. Jawabannya cukup membuat saya tersenyum “bukan disini toh mas blue firenya, masih jauh dibawah sana”. Ternyata dugaan saya salah, blue fire malam itu tetap ada, dan letaknya jauh dibawah dekat kawah sana.

Lanjutkan membaca

Pendakian Rinjani, menyambangi singgasana Dewi Anjani

Diantara puluhan gunung yang ada di Negeri ini, mungkin Rinjani adalah salah satu yang selalu mampu membuat mata saya selalu berbinar ketika mengingat ceritanya, mendengar namanya, dan melihat gambarnya. Selalu takjub, belum pernah bosan sekalipun jua. Rinjani membuat saya percaya dia adalah sebuah raksasa yang disematkan Tuhan dengan kokohnya diatas Pulau Lombok. Jika menurut legenda Semeru ditasbihkan mendiami timur Jawa, agar Pulau Jawa tak lagi terombang-ambing ditengah ganasnya lautan, mungkin Rinjani punya tujuan lain, membahagiakan pengagumnya. Saya hampir percaya dia adalah surga kecil yang di limpahkan Sang Pencipta untuk memberikan berkah tak terhingga bagi warga yang mendiami lerengnya. Tanah-tanah menjadi subur, udara menjadi sejuk, pemandangan menjadi indah, memberikan lapangan kerja yang banyak, dan pelbagai hal lainnya yang membuat Rinjani berhak disebut Sekeping Surga di Bumi Lombok

Mendengar Rinjani membawa ingatan saya tentang sebuah pendakian yang diawali mimpi panjang anak kuliahan yang kebingungan ingin menapaki Puncak Anjani. Dia kebingungan dengan siapa dan dengan cara apa agar berhasil kesana. Memang Rinjani tak perlu mengharuskan kita mengeruk uang di kantong terlalu dalam, tak perlu juga harus latihan fisik berpuluh minggu jungkir balik agar nanti prima menapaki tiap jengkal trek disana apalagi harus mempelajari teknik-teknik mendaki yang super rumit bagi saya sendiri seperti memanjat dinding, meniti tali, dan lain sebagainya. Rinjani hanya memerlukan dua bulan uang saku saya yang tidak boleh dipotong sedikitpun, Rinjani hanya perlu satu minggu penuh untuk disisihkan waktunya agar mampu dengan sempurna menikmati indahnya perjalanan dari trek Sembalun ke Senaru, Rinjani hanya butuh tenaga yang prima yang mampu memikul belasan kilo kerir dipunggung, bahkan jika engkau punya uang lebih, engkau bisa memilih untuk menyewa porter, Rinjani hanya perlu engkau terus melangkah, hingga akhirnya mimpi itu sempurna ketika engkau berada dititik tertingginga, 3726 Mdpl. Dan mimpi itu pula yang akhirnya mampu membawa saya berkali-kali menjejakkan kaki di puncaknya, dan selalu saja takjub tiada kira.

Lanjutkan membaca

Pengalaman ceria di Papandayan

“Jaga mood kalian yah. Inget! Anggap semua halnya bikin seneng! jangan mikir capeknya aja. Semua perjuangan kalian nanti bakal terbayarkan. Setiap langkah kalian pasti ada maknanya” saya berteriak berkali-kali menyemangati mereka disela-sela tawa canda yang membingkai perjalanan kali ini.

Pengalaman kedua ke Papandayan kali ini sedikit lebih menantang. 11 orang dari rombongan saya terdiri dari 4 cewek dan 7 cowok. Berkali-kali saya menjaga mood teman cewek agar tidak bad mood selama perjalanan karena kelelahan. Mencoba menghibur mereka dengan candaan yang mungkin terkadang terdengar krik-krik, padahal suara saya sendiri mulai parau karena radang tenggorokan semakin akut (penyakit langganan).
Banyak orang mengatakan trek menuju papandayan cukup mudah dibandingkan gunung lainnya. Pendek dan landainya pendakian disini menjadikan papandayan pilihan utama bagi sebagian orang yg ingin menikmati keindahan gunung namun tidak ingin berkutat dengan trek ekstrim dan curam yang pastinya melelahkan. Berlokasi di kabupaten Garut menjadikan Papandayan mudah dijangkau bagi pendaki-pendaki yang berasal dari Jawa Barat dan jakarta. Ini pula yang menjadi alasan saya untuk menjadikan Papandayan sebagai gunung perkenalan bagi teman-teman yang ingin mencicipi pengalaman mendaki untuk pertama kalinya. Berbeda dengan pendakian pertama ke papandayan, waktu itu adalah pendakian pertama bagi saya jadi segala sesuatunya temanku yang mengurusinya, saya hanya cukup mempersiapkan peralatan pribadi. Namun di pendakian kedua kali ini, banyak hal yang harus saya persiapkan, mulai dari peralatan pribadi teman, memperhitungkan budget hingga kebutuhan lain-lainnya tim kami.
Tim Papandayan ceria 'Enk Ink Enk'
Tim Papandayan ceria ‘Enk Ink Enk’
Surganya Papandayan, Tegal Alun
Tim pendakian kedua kali ini cukup unik dimana banyak diantara mereka belum saling mengenal satu sama lainnya. Berawal dari ajakan iseng akhirnya banyak yg mengiyakan, dari mulai teman kuliah, teman KKN yang mengajak temannya pula, teman kosan, dan teman asal satu daerah.
Masih teringat jelas di pendakian pertama saya kesini tahun 2012 yang lalu, ketika film 5CM masih booming-boomingnya diputar dibioskop, kami memparodikan adegan di film tersebut versi kami sendiri. Dinginnya suhu saat itu terhangatkan dengan tawa dan canda kami. Rintik hujan nampaknya setia menemani perjalanan kami ketika berangkat dan pulang pada saat itu. Beruntung teman yang cukup expert sigap menanggapi situasi. Ketika kami kedinginan, Alan dengan sigapnya mengeluarkan kompor untuk menghangatkan badan kami. Begitupun mendirikan tenda dan mengatur peralatan serta logistik, saya yang benar-benar buta manajemen pendakian saat itu hanya melihat saja, niat ingin membantu tapi takut malah mengacaukan pekerjaan mereka, alhasil saya cuma mengambil alih pekerjaan masak-memasak. Tak begitu sulit.
Yang paling menyenangkan adalah pendakian ketiga kesini. Bulan September dengan cahaya mataharinya yang berlimpah, memberikan bonus tersendiri bagi kami pemandangan Papandayan yang super cantik kala itu. Birunya langit senantiasa memayungi alam papandayan sepanjang hari. Pendakian dadakan dengan hanya membawa alat pendakian seadanya itu berubah jadi penjelajahan seluk beluk Papandayan yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Meskipun dadakan, tidak berarti pendakian hari itu datar-datar saja. Disitu banyak kejutan muncul. Dimulai dari perjalanan nekat malam hari tanpa lampu senter. Bayangkan saja, karena saking tergesa-gesanya kami lupa membawa senter atau headlamp. Penerangan hanya berasal dari Flashlighy Handphone saja. Beruntung bulan purnama bersinar terang malam itu. Setidaknya membantu penerangan yang hanya seadanya malam itu.
Dipendakian kedua, hujan deras menyambut kedatangan kami di pondok saladah. Posisi tenda kami berdiri persis si tempat kami mendirikan tenda dua tahun yang lalu. Hujan besar saat itu sukses membuat kuyup kedinginan tubuh kami semua. Mendirikan tenda, memasang flying sheet, dan berbagai tetek bengek lainnya dalam keadaan hujan deras cukup membuat kesal. Kesal karena peralatan yang dibawa jadi basah semua, terlebih satu tenda yang ku pinjam ternyata tenda pantai tanpa layer tambahan. Hujan deras sepanjang sore dan malam itu pasti dengan suksesnya mampu menembus dinding tenda yang tipis itu. Beruntung sekali kami membawa flying sheet yang semulanya direncanakan untuk dipasang sebagai tempat memasak.
Panorama Papandayan
Panorama Papandayan
Pengalaman paling menyenangkan ke papandayan bagiku adalah ketika kami kebingungan memilih jalur menuju tegal alun. Saya yang saat itu ketinggalan rombongan menyusul dan mendapati teman-teman lainnya sudah berada dijalur yang cukup curam menuju tegal alun. Kebingungan sedikit menghinggapi awalnya. Karena takut para cewek ini akan kelelahan jika melewati jalur yang curam dan cukup panjang ini. Namun ide lain muncul. Mereka harus diajak menikmati jalur ini agar merasakan petualangan sesungguhnya. Hampir 1jam lebih akhirnya berhasil menggapai puncak punggungan bukit itu. Awalnya kami mengira ini adalah puncak papandayan, namun ternyata bukan. Saya dan Alvero harus sigap membaca situasi dan lokasi dimana kami berada pada saat itu untuk mencari jalur yang tepat menuju tegal alun. Berbekal insting dan pengalaman yang dulu, akhirnya kami menembus jalur itu untuk menuju tegal alun. Berkali-kali mereka sibuk bernarsis ria dibibir bukit ini, padahal jurang disebelahnya sangat terjal. Saya yang acrophobia parah, tidak okut bergabung memilih untuk berjalan duluan. Setengah jam kemudian sampai juga akhirnya. Wajah kelelahan mereka akhirnya berganti dengan senyum. Senang melihatnya. Cukup lama kami menikmati panorama tegal alun akhirnya kami turun melalui jalur yang lainnya untuk menuju Hutan Mati Papandayan.
Ketika pulang, nampaknya teman-teman yang pertama kali naik gunung ini ketagihan dengan petualangan di Gunung. Nampak beberapa dari mereka excited menanyakan peralatan gunung untuk dibeli.
Itulah sedikit cerita pengalaman selama pendakian ke Papandayan. Keceriaan luar biasa selalu tercipta bercampur dengan aroma uap belerang dan keramahan pendaki lainnya. Semoga bisa kembali lagi kesini dengan cerita-cerita barunya yang tak kalah menariknya

Lanjutkan membaca

Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang Gunung berikan terlalu banyak. Hingga kemudian satu persatu saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. 

Mendaki Gunung Semeru adalah kepuasan tersendiri dan menjadi salah satu pendakian yang sangat berkesan bagi saya sendiri. Perjalanan puluhan kilometer membelah hutan, menelusuri urat-urat perbukitan, merasakan teriknya padang savana dan menusuknya udara dingin khas gunung pun akan terbayarkan dengan pesona Gunung Semeru.

Masih tercetak jelas dalam ingatan saya bagaimana saya yang waktu itu yang bukan seorang pendaki, bermimpi keras ingin menjejakan kaki diatap pulau Jawa ini. Akhirnya mimpi itu terwujud dan setelah cukup malang melintang di Gunung-gunung Indonesia lainnya, saya menjejakkan kaki dua kali disini. Pengalaman yang luar biasa selalu tercipta dari sini.Pertama mendaki kesini setelah musim hujan, hijau dimana-mana, anggrek liar bermekaran, pinus-pinus menebarkan aroma basah, dan yang paling teringat adalah tumbuhan (sering disebut lavender) yang berwarna keunguan membentang luas di Oro-oro Ombo. Dan pendakian kedua ketika musim kemarau, tak ayal suasana berbeda saya rasakan. Oro-oro Ombo yang dulu terhampar manis bak karpet ungu sekarang berubah eksotis menjadi kuning kecoklatan. Pun begitu Ranu Kumbolo yang dulu menghijau kini warnanya kuning kecoklatan. Ada hal yang paling mencolok dan sensasinya begitu luar biasa saya rasakan ketika pendakian musim kemarau kesini yaitu bekunya udara malam hari di Ranu Kumbolo. Bulan September menjadi waktu yang pas bagi saya mencicipi bagaimana Semeru ketika musim Kemarau. Dingin yang menusuk hingga suhunya pernah jatuh ke -17 derajat celcius. Ini sensasi yang sulit saya dapatkan di Gunung-gunung lainnya. Ketika itu saya mendapatkan termometer menunjukan angka -7 derajat celcius. Berbeda dengan pendakian pertama, suhu udara tak sedingin itu di Bulan April.

Lanjutkan membaca